Berdalih Pasang Tarif Lebih, Janda Bursa Mobil Membayar Dengan Nyawa

Korban Idayati (41) semasa hidup dan ditemukan dalam kondisi tak bernyawa
Lumajang, Pojok Semeru
Akhirnya Polres Jember berhasil mengungkap tabir misteri kematian Idayati (41) warga Rt 01, RW 15, Kelurahan Tompokersan, Kec. Lumajang, setelah di back up oleh Polres Lumajang.
Jenasah Idayati ditemukan dalam keadaan mengenaskan tanpa busana, Senin (21/1/2019) lalu di Pantai Paseban Dusun Bulurejo, Desa Paseban, Kec. Kencong, Kab. Jember, setelah berpamitan keluar rumah pada hari Sabtu (19/1/2019) malam sekitar pukul 20.00 Wib dengan mengendarai sepeda motor jenis matic miliknya.

Dari pengungkapan kasus pembunuhan ini, ternyata Idayati dibunuh oleh dua pemuda yang sudah ditetapkan sebagai tersangka pelaku pembunuh sadis janda bursa mobil oleh Polres Lumajang dan Polres Jember, mirisnya lagi dari salah satu pemuda pelaku, ternyata masih berstatus pelajar sekolah menengah pertama (SMP).

“Pengungkapan kasus ini berkat kerjasama Tim Cobra Polres Lumajang dan Buser Polres Jember. motifnya masih akan kami dalami”, Ujar Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Hasran, SH., Sabtu (26/1/2019).
Kiri : SF (24) dan NF (15) Pelaku Pembunuh Janda Bursa Mobil

Sementara menurut keterangan dari Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH SIK MM MH Kedua tersangka pelaku pembunuh janda beranak tiga ini terjadi diareal makam Sentono (pinggir sungai Bondoyudo) Dusun. Krajan II, Desa. Dawuhan Wetan, Kec. Rowokangkung, yang mana dari hasil instrogasi petugas berdasarkan dari keterangan para pelaku, kejadian pembunuhan tersebut terjadi secara spontan tanpa direncanakan sebelumnya.

"Kami tidak percaya begitu saja, karena kedua pelaku juga mengambil harta yang dibawa korban",Paparnya.

Diketahui kedua pemuda tersangka tersebut berinisial SF, (24) warga Dusun. Krajan II, Rt 21, Rw 6, Desa. Dawuhan Wetan, Kec. Rowokangkung, dan NF (15) warga Dusun. Krajan I, Desa. Dawuhan Wetan, Kec. Rowokangkung, adapun yang menjadi motif pembunuhan tersebut bermula saat SF yang sudah janjian dengan korban untuk berkencan, kemudian SF mengajak NF untuk ikut bersamanya, setelah korban dan para pelaku ketemu ditempat yang sudah disepakati kemudian ketiganya berangkat ketempat TKP terjadinya tragedi naas tersebut yaitu di makam Sentono.

"Pelaku dengan korban sudah janjian untuk berkencan",Tambahnya.

Untuk menuju lokasi yang dijadikan tempat berkencan, SF berboncengan dengan korban mengendarai kendaraan milik korban, sedangkan NF menaiki motor sendiri mengikuti keduanya menuju lokasi kencan, setelah SF berkencan dengan korban terjadilah cek cok soal pembayaran atau tarifnya, menurut keterangan pelaku SF sebelumnya harga sekali kencan dengan korban cuma Rp 50.000, namun untuk kencan kali ini, korban meminta bayaran lebih.

"Pelaku sempat memukul kepala korban dengan tangan kosong dan juga memukul berkali-kali dengan helm milik korban",Tandasnya.

Mengetahui keduanya berantem, NF mendekati keduanya dan saat itu kondisi korban setengah sadar setelah berkali-kali dihajar oleh SF, dengan alasan panik kedua pelaku kemudian menceburkan korban kealiran sungai Bondoyudo yang alirannya menuju laut Paseban, namun sebelum menceburkan korbannya terlebih dahulu, para pelaku ini menguras harta milik korbannya.

"Dalam pengakuanya, Kedua tersangka menerangkan tidak tahu apakah saat dilemparkan ke arah sungai, korban dalam keadaan meninggal dunia atau belum",Tambahnya.

Untuk perhiasan korban masih disimpan dirumah paman SF, sementara untuk kendaraan sepeda motor milik korban dijual oleh keduanya ke wilayah Kab. Situbondo, dari kejadian yang melibatkan pelaku pembunuhan tersebut yang mana salah satu pelakukanya adalah anak dibawah umur, Kapolres Lumajang menyayangkan serta menghimbau kepada masyarakat luas untuk bersama membangun karakter anak sejak dini agar memiliki kepribadian yang bagus.

“Satu hal yang kita sangat sayangkan, salah satu pelaku masih anak dibawah umur. ini membuktikan adanya degradasi moral dilingkungan kita. ini menjadi PR kita bersama untuk membangun karakter dan kepribadian positif sejak usia dini”, Pungkasnya. (bas).
Load disqus comments

0 Comments