Diduga "Embat" Hasil Tarikan Portal, Warga Blokade Jalan.

Jajaran Forkopimda saat melakukan survey jalan alternatif tambang
Lumajang, Pojok Semeru
Guna meredam amarah warga dusun Sidomoro Desa Kalibendo Kec. Pasirian, yang kemudian aksi serupa disusul oleh warga dusun Urang Gantung Desa Jarit kec. Candipuro yang selama ini menerima dampak negatif dari lalu lalang kendaraan bertonase berat hasil tambang mineral bukan logam dan batuan yang setiap harinya mencapai ratusan kali, tentu hal tersebut manjadikan warga memblokade jalan desa tersebut yang dijadikan akses tambang dari lokasi tambang di Desa Jugosari Kec. Candipuro.

Meski sebelumnya sudah menjadi komitmen bersama, selama pembuatan jalan alternatif tambang dikerjakan dengan kurun waktu 1 bulan 1 minggu, kendaraan bermuatan hasil tambang boleh melewati kedua dusun dan kedua desa tersebut tentunya dengan catatan hingga masa tenggang waktu yang disepakati dalam pembuatan jalan alternatif ada kesepakatan baru untuk tambahan waktu.

Namun, Kamis (17/1/2019) warga Dusun Sudimoro kembali memblokade jalan desa yang dilewati kendaraan bermuatan hasil tambang, pasalnya meski dalam komitmen bersama yang dibuat tanggal 6 Desember 2018 lalu, dalam salah satu point yang disepakati bersama menjelaskan bahwa tiap desa yang dilewati kendaraan tambang dilarang menarik portal, namun blokade warga kali ini ternyata juga dipicu oleh rasa kecewa warga dengan hasil tarikan portal tambang yang dinilai tidak sesuai dengan hitungan kendaraan yang lewat.

"Kapan hari pak Sonto yang menarik portal selama 3 hari saja menadapat 7 juta, dan tiap RT mendapat 1 juta lebih",Ujar Kasun Sudimoro Abd.Kholiq, Sabtu (19/1/2019)

Sedangkan menurut warga yang melarang namanya disebutkan, mengatakan tarikan portal didusun Sudimoro selama sebulan tiap RT hanya mendapat bagian kurang dari 4 juta, dan tarikan untuk yang 7 hari tidak ada pembagian, sementara tarikan yang dilakukan oleh pengurus lain, hanya dengan waktu 3 hari saja sudah mendapat 7 juta.

"Mendingan tidak ada tarikan portal kalau hanya untuk memperkaya segelintir orang saja",Tegasnya.

Sebagai bentuk antisipasi terjadinya konflik Horizontal, antara penambang dengan warga, Jumat (18/1/2019), jajaran Forkopimda bertandang kelokasi penutupan jalan desa yang dijadikan akses bermuatan hasil tambang, Bupati Lumajang, Thoriqul Haq meminta warga untuk tetap bersabar karena jalan alternatif tambang masih dikerjakan.

"Dimohon bersabar, jalan sejauh 8 Km sedang dikerjakan dan sudah berjalan 4.5 km kurang 3.5 km lagi dan setelah ini warga sekalian selamanya tidak akan terganggu oleh kegiatan penambangan", Terang Bupati Lumajang yang akrab dengan panggilan Cak Thoriq.

Hal senada juga disampaikan oleh Kapolres Lumajang AKBP. DR. Muhammad Arsal Sahban, SH. S.I.K. MM. MH., pihaknya menjelaskan bahwa permasalahan yang terjadi cukup komplek sehingga selama pengerjaan jalan alternatif tambang, pihaknya berharap warga tetap bersabar hingga pengerjaan proyek tersebut rampung.

"Jalur ini akan menjadi jalur tetap dan jauh dari pemukiman warga, sehingga kegiatan penambangan tidak memberikan dampak negatif pada warga sekitar, karena armada truck pasir nantinya tidak melalui pemukiman warga",Tegasnya.

Masih menurutnya, selama pengerjaan jalan alternatif tambang yang diperkirakan selesai selama 3 mingguan lagi, pihaknya bakal menerjunkan satu pleton anggotanya untuk pengamanan sebagai antisipasi terjadinya konflik yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

"Akan saya turunkan 1 pleton anggota kami, untuk pengamanan disini, saya mohon kepada warga untuk bersabar sedikit lagi, setelah itu selamanya warga sekalian tidak akan terganggu oleh dampak kegiatan penambangan pasir",Pungkasnya. (bas).
Load disqus comments

0 Comments