Menepis Isu Masuk TNI dan Polri Harus Bayar Mahal, Bimbel Pasirian Menjawab Dengan Semangat dan Kesederhanaan

anak didik bimbel pasirian saat latihan fisik
Lumajang, Pojok Semeru
Kepedulian Aditya Gito (51) warga Dusun Bulak winong, Desa Pasirian, terhadap generasi bangsa yang secara ekonomi minus, namun berkeinginan meraih mimpi untuk mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara menjadi anggota TNI ataupun anggota Polri. pihaknya bersedia menampung pemuda pemudi tersebut untuk memberikan bimbingan belajar (bimbel) secara suka rela.

"Anak-anak berlatih sendiri secara fisik dan juga psikotes, dengan harapan ketika ada kesempatan untuk mendaftarkan diri diperekrutan TNI dan Polri, anak-anak dapat lolos seleksi secara jujur, karena kemampuannya bukan karena uangnya",Ujar Aditya, Senin (10/6/2019).
saat mengerjakan soal psikotes

Disinggung soal Psikotes yang dipelajari oleh Bimbel Pasirian dibawah binaannya, Aditya tidak segan sounding kepada teman dan saudaranya yang berdinas di TNI ataupun Polri, selain itu pihaknya juga kerap dan rutin melakukan browsing soal - soal Psikotes diinternet.

"Bertanya kepada teman dan saudara, dan juga browsing di internet",Tandasnya.

Diakui bahwa anak-anak didik yang mengikuti bimbel, rata-rata anak yang minus secara ekonomi keluarga, namun pihaknya tidak mau mematahkan semangat dari generasi bangsa untuk meraih cita-citanya menjadi TNI dan Polri, selain itu pihaknya juga menepis bahwa untuk menjadi anggota TNI dan Polri tidak harus membayar dengan uang yang banyak.

"Anak - anak didik yang mengikuti bimbel, bukan dari keluarga yang berduit, ada pesuruh sekolah, ada yang anaknya janda miskin, dan masih banyak lagi, asal ada kemauan dan niat yang bersungguh-sungguh insyaallah ada saja jalan untuk meraih sukses",Terangnya.
Ahmad Musyafak dengan bangga foto bersama ibu kandungnya Suciasih (63) 

Diakui, Sudah banyak anak didik bimbel dibawah pembinaan Aditya yang sudah lolos mendaftar menjadi aparatur negara, semisal Yoga Hermawan (20) warga Dusun Krajan Desa Jatisari, Kecamatan Tempeh, anak pertama dari dua bersaudara yang sejak SMP ikut neneknya karena kedua orang tuanya berpisah, saat ini sudah dinyatakan lolos dan diterima menjadi anggota TNI dan masih pendidikan, diceritakan kisah hidupnya setelah lulus SMA dirinya menjadi pesuruh di SMA tempatnya mencari ilmu yaitu di SMAN Tempeh, disela waktu senggang dirinya juga mengikuti bimbel dirumah Aditya.

"99% soal psikotes yang diberikan Om Adit, keluar semua, dan Alhamdulillah saya saat ini sudah pendidikan",Ucapnya.

Pengakuan serupa juga disampaikan oleh Ahamad Musyafak (20) warga Dusun Krajan Barat Desa Nguter Kecamatan Pasirian, pihaknya mengaku mengikuti Bimbel hanya 4 bulan dan saat mendengar ada info pendaftaran penerimaan anggota TNI, dirinya pun bertekat untuk mendaftarkan diri bahkan saat pengurusan administrasinya dirinya tidak punya uang.

"Alhamdulillah saya disumbang om adit saat pengurusan administrasi, karena saat itu saya tidak punya uang sama sekali", Akunya.

Ahamd Musyafak kesehariannya tinggal bersama ibu kandungnya Suciasih (63), semenjak ayahnya meninggal Suciasih membanting tulang menjadi pembantu rumah tangga untuk menopang kehidupan anak-anaknya.

"Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan dan om Adit, yang selalu memberikan semangat hingga saya diterima dijajaran TNI meskipun saat ini masih pendidikan, dan kepada adik-adik bimbel terus semangat dan optimis ya, sukses itu bukan dari uang tapi dari semangat dan berdoa",Pungkasnya. (bas).
Load disqus comments

0 Comments